Iklim tropis Indonesia dengan paparan sinar matahari intens menuntut penggunaan atap galvalum Wikool. Atap galvalum ini menawarkan formula khusus yang tidak hanya kuat, tapi juga mampu menjaga kenyamanan suhu di dalam ruangan. Keberadaannya menjawab kebutuhan atap modern yang nyaman untuk bangunan komersial, hunian hingga industri.
Baca Juga: Fakta Atap Galvalum Pasir Mampu Meredam Suara

Daya Tarik Penggunaan Atap Galvalum Wikool
Menurut laman resmi Wikool, atap galvalum ini mampu menyerap suhu panas ekstrem, bahkan hingga 40-60%. Material merupakan atap pertama di Indonesia dengan bahan berkualitas tinggi, menyediakan solusi perlindungan bangunan secara menyeluruh.
Ringan dan Efisien
Atap Wikool merupakan material penutup yang paling ringan di kelasnya. Atap galvalum ini memiliki bobot yang tidak lebih dari 3 kg/m². Bobot ringan tersebut memudahkan proses pemasangan, mengurangi beban struktur bangunan hingga jadi solusi yang aman untuk jangka panjang.
Anti Panas untuk Ruangan Lebih Sejuk
Salah satu daya tarik utama dari atap Wikool adalah kemampuannya dalam menurunkan suhu di dalam ruangan hingga 20%. Hal ini membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman sekaligus mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan. Oleh sebab itu, atap Wikool seringkali dipilih sebagai solusi hemat energi bagi konstruksi modern.
Perlindungan Maksimal dengan Teknologi Nano
Atap Wikool dilapisi oleh teknologi Nano Protective Film. Teknologi canggih ini mampu mencegah kotoran dan debu menempel pada permukaan atap.
Teknologi Nano Protective Film menciptakan lapisan hydrophobic yang tidak hanya menolak air. Tapi juga memecah partikel debu, sehingga atap memiliki fitur self-cleaning saat terkena hujan.
Lapisan tersebut tidak membuat atap berjamur. Hasilnya, tampilan atap lebih bersih dan tahan lama meskipun digunakan dalam jangka panjang.
Studi Kasus di Lapangan
Kami melakukan pengamatan pada sebuah rumah di kanal YouTube Disabilitas punya cara. Jika diperhatikan, rumah memiliki dua kemiringan atap yang berbeda. Atap utama memiliki kemiringan 30 derajat, cocok dengan atap jenis genteng. Sementara atap tambahan di garasi memiliki kemiringan kurang dari 10 derajat, sehingga tidak cocok menggunakan atap jenis genteng. Jika tetap dipaksakan, atap genteng berisiko mengalami kebocoran akibat air balik dan tampias saat hujan. Solusi permasalahan ini adalah diganti menggunakan atap dengan dimensi besar seperti atap galvalum Wikool.
Sebelum dipasang, genteng lama diturunkan terlebih dahulu. Nah karena bidang atap lebih tinggi dari lisplang atau dinding, maka rangka atap lama juga diturunkan. Setelah menerapkan cara tersebut, hasilnya langsung terlihat rapi. Kondisi atap juga lebih rapat dengan tepi dinding serta talang. Hal ini bisa jadi solusi ideal untuk mencegah binatang masuk dan bersarang di atas plafon. Menariknya, setelah dipasang hunian jadi lebih nyaman, adem dan tidak terasa panas.
Lebih lanjut, bagian rangka atap masih memanfaatkan rangka lama dengan jarak 40 cm. Ketika proses pemasangan, rapikan bagian atas dinding terlebih dahulu, sebab sulit dijangkau setelah atap terpasang. Setelah itu, barulah atap disusun seperti pada umumnya. Secara keseluruhan, penggunaan atap ini membantu mempercepat proses pengerjaan rumah.
Saran Pemasangan Profesional
Sebaiknya, sambungan atap harus ditumpuk dengan benar, mulai bagian tepi dengan lekukan kecil dan ditutup menggunakan lembaran berikutnya. Cara jitu ini bisa menghindari kebocoran saat hujan lebat.
Kemudian, pemasangan sekrup harus tegak lurus agar kepala sekrup tidak miring dan karet seal pun bisa menutup rapat. Jika memungkinkan, tambahkan silikon di bawah kepala sekrup sebelum dikencangkan untuk mengurangi risiko bocor.
Sebagai catatan, pemasangan atap galvalum Wikool tidak disarankan untuk ditanam ke dalam dinding. Sebab, perbedaan material dan pemuaian bisa menyebabkan atap Wikool retak dan bocor.
Alternatifnya, gunakan plat galvalum terpisah pada tepi. Hal ini berguna agar atap bisa bergerak bebas jika terjadi pemuaian atau penyusutan akibat perubahan cuaca.
Perbandingan Suhu Ruangan dari Atap Wikool vs Spandek Lain
Bersumber dari akun Instagram @wikool_indonesia, ada perbedaan nyata pada penggunaan atap Wikool vs spandek. Berikut tabel perbandingan suhu ruang setelah menggunakan atap Wikool vs Spandek lain.
| Kondisi/Waktu | Atap Wikool | Atap Spandek | Selisih |
| Skenario 1 | 24°C | 27°C – 30°C | 3°C – 6°C |
| Skenario 2 | 25°C | 32°C – 41°C | 7°C – 16°C |
| Skenario 3 | 27°C | 51°C – 54°C | 24°C – 27°C |
Data tersebut menunjukkan bahwa atap Wikool mampu menjaga suhu ruangan tetap stabil di bawah 30°C. Bahkan, atap mampu bertahan ketika suhu atap spandek lain melonjak ekstrem hingga di atas 50°C.
Baca Juga: Atap Galvalum Trimdek Jadikan Bangunan Lebih Rapi dan Modern
Atap galvalum Wikool bisa jadi solusi tepat bagi konstruksi di lingkungan dengan suhu panas ekstrem. Proses instalasinya juga cenderung mudah, menjadikan waktu pelaksanaan proyek jadi lebih cepat.

Saya seorang praktisi bangunan sekaligus konsultan atap rumah dengan fokus pada spesialisasi material baja ringan, galvalum hingga uPVC berkualitas. Dengan pengalaman tak kurang dari 9 tahun di industri ini, saya siap membagikan infomasi seputar jenis atap rumah, panduan pemilihan desain dan materialnya sesuai kebutuhan.



