Atap Baja Ringan Limasan untuk Hunian Modern yang Kokoh dan Efisien

Posted on

Atap baja ringan limasan menjadi pilihan populer sejak awal tahun 2000-an. Material atap ini digunakan luas pada rumah tinggal dan bangunan usaha. Bobotnya ringan namun kekuatannya tetap terjaga. Faktor biaya yang relatif terukur juga menjadi pertimbangan utama memilih atap baja ringan ini.

Baca Juga: Atap Pelana Baja Ringan Cocok untuk Hunian di Daerah Tropis

Atap Baja Ringan Limasan untuk Hunian Modern yang Kokoh dan Efisien
Atap baja ringan limasan menggabungkan struktur kokoh, distribusi beban merata dan efisiensi biaya dengan tampilan yang tetap modern. Foto: Istimewa

Konsep dan Karakteristik Atap Baja Ringan Limasan

Atap limasan baja ringan mempunyai empat bidang miring yang bertemu pada satu titik puncak. Bentuk ini membuat beban atap terdistribusi merata ke seluruh struktur. Stabilitas bangunan menjadi lebih baik, terutama di daerah berangin dan bercurah hujan tinggi. Desain limasan juga terkenal efisien dalam mengalirkan air hujan.

Material baja ringan berstandar SNI 8399:2017 yang digunakan umumnya berupa profil canai dingin. Baja ini memiliki ketahanan tarik tinggi meski dimensinya tipis. Lapisan pelindung seperti zinc atau galvalum membantu mencegah korosi. Umur pakai atap pun menjadi lebih panjang dengan perawatan minimal.

Tiap material punya ketebalan berbeda. Semua itu bisa dilihat dari BMT dan TCT. Untuk kebutuhan menggunakan kanal C, BMT yang baik yakni 0,70mm dengan TCT 0,75mm. Lalu pada rengnya berkisar 0,40 mm-0,45mm.

Komponen Utama dan Material Pendukung

Rangka atap baja ringan limasan tersusun dari beberapa komponen penting. Dalam hal ini, kuda-kuda berfungsi sebagai penopang utama beban atap. Jurai limasan menjadi elemen penghubung antar bidang miring. Lalu, reng berperan sebagai dudukan penutup atap seperti genteng atau metal.

Selain rangka utama, dibutuhkan pula sekrup khusus baja ringan. Dalam penggunaannya, sekrup ini memastikan sambungan tetap kuat dan presisi. Material penutup atap dapat disesuaikan dengan kebutuhan desain. Pilihan yang umum meliputi genteng metal, keramik, dan lembaran galvalum.

Menghitung Luas dan Biaya Atap

Perhitungan biaya atap baja ringan limasan dimulai dari pendataan bentuk atap. Bentangan dan kemiringan atap sangat memengaruhi jumlah material. Langkah berikutnya yakni menghitung luas atap dalam satuan meter persegi. Dalam hal ini, luas dihitung berdasarkan bidang segitiga, trapesium atau persegi panjang sesuai desain.

Setelah luas diketahui, harga per meter persegi rangka dan penutup atap dapat ditentukan. Harga ini biasanya mengacu pada standar pemasok dan ongkos tenaga kerja.

Rumus umum biaya atap baja ringan adalah Biaya = (Luas Atap x Harga Rangka) + (Luas Atap x Harga Penutup). Hasil perhitungan ini memberikan gambaran anggaran awal yang cukup akurat.

Sebagai contoh bisa dilihat dalam akun Akun YouTube @Metrobajaringan mendemonstrasikan desain SketchUp rangka atap baja ringan limas untuk rumah menjorok ke depan. Ukuran bangunannya punya lebar depan 450 cm, siku 150 cm, panjang 900 cm dan lebar belakang 750 cm. Kemudian, kemiringan atapnya dibuat 30 derajat dengan struktur baja ringan. Menggunakan kemiringan sudut 30 derajat sendiri merupakan standar ideal. Ini beguna untuk memastikan kalau air hujan bisa mengalir cepat tanpa harus menyebabkan tampyas. Kemudian, desainnya menggunakan kanal C full tebal 1 mm dengan kuda-kuda utama 750 cm dan rangka model kebil. Hasilnya jadi lebih kokoh.

Perhitungan material meliputi satu set kuda-kuda 3.397,7 cm hingga total empat kuda utama 13.590,8 cm. Jarak antar kuda 100 cm dilengkapi jurai, braket, dinabol dan sekrup sesuai kebutuhan struktur.

Langkah Pemasangan Atap Limasan Baja Ringan

Pada pemasangan atap baja ringan limasan diawali dengan persiapan alat dan bahan. Teknisi menggunakan alat yang umum digunakan untuk pemasangannya, antara lain bor listrik, waterpas, pengukur sudut dan alat pelindung diri.

Setelah itu, dilakukan pengukuran dan penandaan posisi kuda-kuda sesuai gambar kerja. Ketepatan tahap ini sangat menentukan kekuatan struktur.

Langkah berikutnya ialah pemasangan kuda-kuda utama. Dalam penerapannya, kuda-kuda dipasang dengan jarak sekitar 1 hingga 1,5 meter. Setelah kuda-kuda terpasang, jurai limasan dipasang pada pertemuan bidang atap. Reng kemudian dipasang secara bertahap dari bawah ke atas.

Tahap akhir yakni pemasangan penutup atap dan finishing. Genteng dipasang berurutan dan dikunci dengan pengikat yang sesuai.

Pemeriksaan secara menyeluruh perlu dilakukan guna memastikan tidak ada sambungan longgar. Hasil akhir yang rapi memastikan atap limasan baja ringan berfungsi optimal dan tahan lama. Sebagai catatan penting, ada baiknya pemasangan dilakukan oleh aplikator bersertifikat agar mendapat hasil terbaik.

Atap Limasan Baja Ringan Model Tumpuk vs Model Asimetris

Atap limasan baja ringan model tumpuk memiliki susunan bertingkat dengan ukuran berbeda. Desain ini memberi kesan megah dan kuat dengan nuansa tradisional Jawa. Kelebihannya terletak pada sirkulasi udara yang baik dan tampilan tampak dramatis.

Di sisi lain, model limasan asimetris memiliki kemiringan atau panjang sisi yang tidak sama. Tampilan rumah terlihat lebih modern dan dinamis dengan ruang tambahan seperti plafon tinggi atau loteng. Model tumpuk unggul dari sisi ventilasi, sedangkan asimetris cocok untuk desain yang ingin tampil berbeda.

Baca Juga: Rangka Atap Lengkung Baja Ringan Solusi Bangunan Makin Artistik

Atap baja ringan limasan hadir sebagai solusi konstruksi efisien karena mampu menggabungkan kekuatan struktur, kemudahan pemasangan, dan perhitungan biaya terukur. Berkat pemahaman terhadap karakteristik desain, komponen material serta langkah pemasangannya, risiko kesalahan di lapangan bisa diminimalkan. Perencanaan yang matang juga membantu mengontrol anggaran dan kebutuhan material sejak awal.